Analisis Kepuasan Rumah Sakit dalam Kerjasama dengan BPJS Kesehatan dan Kebijakan Tarif yang Adil

Headline744 Dilihat

Oleh. dr. Friedrich M. Rumintjap, Sp.OG(K), MARS., FIHFAA., FISQua., FRSPH (Ketua Umum LAFKI)

Indonesia adalah negara yang mengedepankan prinsip keadilan sosial, termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Keadilan sosial adalah landasan yang memandu negara dalam memberikan pelayanan kesehatan yang merata bagi semua warga negaranya. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan merupakan salah satu alat untuk mencapai prinsip tersebut dengan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Program ini telah menarik perhatian peserta JKN yang terus bertambah setiap tahunnya. Namun, kerja sama antara rumah sakit dan BPJS Kesehatan belum selalu berjalan mulus, menciptakan tantangan tersendiri dalam memastikan kepuasan kerja dan pelayanan yang berkualitas bagi pasien. Dalam artikel ini, kami akan mengulas dan mengevaluasi kepuasan rumah sakit dalam bekerja sama dengan BPJS Kesehatan di Indonesia, dengan dukungan teori serta refleksi untuk masa mendatang.

Dalam menganalisis kepuasan rumah sakit dalam kerja sama dengan BPJS Kesehatan, kita dapat merujuk pada teori kepuasan layanan (service quality) yang dikenal sebagai SERVQUAL. Teori ini mengidentifikasi lima dimensi kunci yang memengaruhi kepuasan pelanggan, yakni tangible (keterlihatan), reliability (keandalan), responsiveness (kecepatan tanggapan), assurance (kepercayaan), dan empathy (empati). Sebuah penelitian dengan sampel 456 rumah sakit di Indonesia yang dilakukan dengan menggunakan data sekunder dari Riset Fasilitas Kesehatan (Rifaskes) tahun 2019, melihat bahwa 80,7% rumah sakit merasa puas dengan kerja sama mereka bersama BPJS Kesehatan.

Dimensi reliability (keandalan) memiliki peran penting dalam memengaruhi kepuasan rumah sakit. Rumah sakit perlu yakin bahwa BPJS Kesehatan akan memberikan dukungan finansial yang memadai untuk pelayanan yang diberikan. Kepuasan rumah sakit juga dipengaruhi oleh responsifnya BPJS Kesehatan terhadap keluhan atau masukan, menunjukkan pentingnya dimensi responsiveness (kecepatan tanggapan).

Selain itu, adanya empati dalam interaksi antara rumah sakit dan BPJS Kesehatan dapat meningkatkan kepuasan. Hal ini mencerminkan dimensi empathy (empati), di mana komunikasi yang baik antara kedua belah pihak dapat membantu memahami kebutuhan dan harapan masing-masing.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa beban kerja akibat pelayanan JKN sepadan dengan imbalan yang diterima oleh rumah sakit, BPJS Kesehatan mendukung peningkatan kinerja rumah sakit dalam pelaksanaan JKN, dan aturan yang dibuat oleh BPJS Kesehatan tentang pembiayaan JKN dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan. Semua ini menciptakan kerangka kerja yang mendukung dimensi reliability, responsiveness, dan empathy dalam kerja sama rumah sakit dengan BPJS Kesehatan.

Meskipun hasil penelitian menunjukkan tingginya tingkat kepuasan rumah sakit dalam kerja sama dengan BPJS Kesehatan, perlu diperhatikan bahwa kerja sama ini juga telah menghadapi beberapa tantangan. Beberapa ahli telah mengkritik aspek-aspek tertentu dalam implementasi JKN, yang seharusnya menjadi fokus perbaikan untuk masa mendatang.

Pertama, masalah biaya dan pembiayaan tetap menjadi isu krusial dalam kerja sama ini. Sementara BPJS Kesehatan berusaha untuk memberikan dukungan finansial, masih ada ketidakpastian terkait dengan kecukupan dana untuk memenuhi semua kebutuhan layanan kesehatan. Hal ini dapat mengganggu dimensi reliability, di mana rumah sakit harus dapat mengandalkan BPJS Kesehatan sebagai mitra yang stabil dalam hal pembiayaan.

Kedua, perlu ditingkatkan lagi responsifitas BPJS Kesehatan terhadap masukan dan keluhan dari rumah sakit. Beberapa rumah sakit mungkin mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan BPJS Kesehatan, dan hal ini dapat memengaruhi tingkat kepuasan. Meningkatkan komunikasi dan transparansi antara kedua belah pihak adalah kunci dalam memperbaiki dimensi responsiveness.

Terakhir, penting untuk memastikan bahwa aturan dan regulasi yang dibuat oleh BPJS Kesehatan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi di lapangan. Penyesuaian yang tepat akan membantu menciptakan dimensi empathy yang lebih baik dalam kerja sama ini.

Mengingat pentingnya kerja sama antara rumah sakit dan BPJS Kesehatan dalam menyediakan pelayanan kesehatan yang berkualitas bagi masyarakat Indonesia, langkah-langkah perbaikan perlu ditempuh. Dalam refleksi untuk masa mendatang, beberapa hal penting dapat diidentifikasi:

Pertama, perlu ditingkatkan lagi komunikasi dan kolaborasi antara rumah sakit dan BPJS Kesehatan. Hal ini akan membantu meningkatkan dimensi empathy dalam kerja sama ini, sehingga kebutuhan dan harapan masing-masing pihak dapat dipahami dengan lebih baik.

Kedua, pembiayaan kesehatan perlu diatur dengan lebih cermat. BPJS Kesehatan harus memastikan ketersediaan dana yang memadai untuk memenuhi kebutuhan layanan kesehatan, sehingga rumah sakit dapat lebih mengandalkan BPJS Kesehatan sebagai mitra yang andal.

Ketiga, responsifitas terhadap masukan dan keluhan perlu ditingkatkan. BPJS Kesehatan harus bersedia mendengarkan dan merespons masukan dari rumah sakit untuk memastikan pelayanan kesehatan yang lebih baik.

Keempat, perlu dilakukan peninjauan ulang terhadap kebijakan tarif BPJS Kesehatan agar lebih adil dan merata. Hal ini akan membantu menciptakan keseimbangan yang lebih baik dalam pelayanan kesehatan di berbagai jenis rumah sakit.
Kerja sama antara rumah sakit dan BPJS Kesehatan di Indonesia adalah elemen kunci dalam penyediaan pelayanan kesehatan yang berkualitas bagi masyarakat. Meskipun telah ada kemajuan yang signifikan dalam mencapai kepuasan rumah sakit, masih ada tantangan yang perlu diatasi. Dengan langkah-langkah perbaikan yang tepat, kita dapat menciptakan kerja sama yang lebih baik, memastikan kepuasan pelanggan yang lebih tinggi, dan membentuk masa depan yang lebih cerah dalam pelayanan kesehatan di Indonesia.

Dalam menggapai prinsip keadilan sosial dalam pelayanan kesehatan, kita harus memastikan bahwa struktur, proses, dan hasil pelayanan kesehatan di semua jenis rumah sakit mencerminkan kesetaraan dan keadilan. Melalui komunikasi yang kuat, pengaturan pembiayaan yang bijaksana, responsifitas terhadap masukan, dan kebijakan tarif yang adil, kita dapat menciptakan jalinan yang kokoh antara rumah sakit dan BPJS Kesehatan. Seperti pohon kehidupan yang tumbuh dengan akar yang kuat, sistem kesehatan Indonesia juga harus memiliki dasar yang kokoh untuk memberikan pelayanan kesehatan yang setara dan berkualitas bagi semua warganya.

Referensi:
1. Nursolihah, Iha. (2023). ANALISA KEPUASAN RUMAH SAKIT DI INDONESIA BEKERJA SAMA DENGAN BPJS KESEHATAN. Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan. 10. 2349-2359. 10.33024/jikk.v10i7.10193.
2. Julianti, Selvi. (2023). KUALITAS PELAYANAN RUMAH SAKIT PUTRI HIJAU MEDAN DITINJAU DARI FASILITAS BPJS KESEHATAN DAN BPJS KETENAGAKERJAAN. JMRI Journal of Multidisciplinary Research and Innovation. 1. 38-46. 10.61240/jmri.v1i1.5.
3. Nursolihah, Iha & Sembiring, Dian & Runggandini, Sekar. (2023). Pengaruh Kerja Sama Antara Rumah Sakit dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Terhadap Jumlah Kunjungan Rumah Sakit di Indonesia. Journal of Pharmaceutical and Sciences. 6. 393-399. 10.36490/journal-jps.com.v6i2.118.
4. Pranayuda, Bonny & Haryanti, Ina & Utomo, Yoga & Madiistriyatno, Harries. (2023). Analisis Penyebab Pending Klaim Pasien BPJS Kesehatan dalam Pengajuan Klaim di Rumah Sakit Umum Persahabatan. Blantika: Multidisciplinary Journal. 1. 305-313. 10.57096/blantika.v1i4.44.
5. Oktoriani, Ervita. (2023). Pengaruh Citra Rumah Sakit, Kualitas Layanan Terhadap Kepuasan dan Loyalitas Pasien BPJS Rawat Inap. Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI). 11. 10.33560/jmiki.v11i1.525.
6. Khotima, Fitriya & Nugraha, I & Wardhana, Zainal. (2023). Analisis Alur Pelayanan Pasien Rawat Jalan Bpjs Kesehatan di Rumah Sakit Mata Bali Mandara. Bali Medika Jurnal. 10. 43-60. 10.36376/bmj.v10i1.278.